Monday, May 26, 2025

Cerpen: Aduh Hardi

 

Adin Harmain, 2013.


Kalau dihitung, lima kali aku berkunjung ke rumah ini. Si agen yang tugasnya sebagai perantara juga tak jenuh menemani aku melihat-lihat serta menceritakan beberapa hal yang perlu diketahui oleh selayaknya calon pembeli rumah. Rumah yang tidak ditinggali sejak sekitar dua belas tahun lalu. Berdasarkan cerita si perantara, rumah ini tak lagi ditempati sebab pemilik rumah yang sebelumnya terbelit hutang-piutang dengan salah seorang “pemerintah” kelurahan setempat.


Akibatnya, si pejabat yang konon sering mendalangi penipuan dan kasus perdata tanah, rumah dan banyak lagi segera ditindak oleh petugas berwenang. Warga disitu tak pernah mendengar kabarnya semenjak penangkapan dua belas tahun lalu. Demikian halnya dengan si pemilik rumah. Bapak yang katanya seorang penulis terlanjur malu dengan tetangganya karena masalah itu, ia memutuskan pindah, meskipun masalah sebenarnya sudah dibereskan. Beserta istri dan lima anak, mereka pergi, katanya tak pernah pamit pada tetangga sekitar. Dengan tanpa jejak mereka lalu menjual rumah itu ke pihak agen rumah dan properti.


                “Bagaimana pak?”. Saya terdiam lagi ketika pertanyaaan senada dilontarkan. “Ok, baik. Saya tahu, bapak perlu waktu memutuskan, perlu diskusi sama keluarga, istri, anak. Ok, silakan pikirkan dulu, saya masih ada urusan lain”. Saya ingin menyela, bapak itu keliru mengatakan beberapa hal. Ia meninggalkan saya di depan rumah itu. Mematung, menimbang apakah bagi seorang arsitek seperti saya cukup efektif untuk berdomisili di rumah yang jauh dari pusat kota?.


“Sudah, kemarin dicek lagi, sedikit saja harus kita benahi, selebihnya masih bagus”.”Terserah lah, aku sih yang penting nyaman, aman”. “Kira-kira Hardi bakal mau?”. “Tanya langsung ke orangnya”. “Ya sudah,”.  


“Berarti kemungkinan pindah 60%”, batinku. Semuanya kini tergantung padaku. Soal harga, itu bukan masalah. Namun ada beberapa yang harus di pertimbangkan. Kuarahkan sepeda motor kearah taman kota, duduk “bersemedi” sepertinya akan membantu. Hingga petang, aku masih saja duduk terpaku. Memaksa daya otakku agar semuanya tepat, jangan sampai ada yang keteteran nanti.


Akan ada budget lebih. Kami harus melepas rumah kami yang sekarang. Dan lagi, aku harus membuat ruang gambar di sana, sementara bangun sekat dulu, nanti kupikirkan bagaimana mendesainnya. Tapi biarlah, yang penting semua berjalan sesuai diharapkan. Kali ini aku tak mau berbuat sesuatu yang mengecewakan. Segera ku tekan beberapa kontak di handphone. Tak lupa kuhubungi juga perantara yang seharian mengirim pesan, menanyakan kepastian aku jadi membeli rumah atau tidak.


Akhir pekan, aku dan Nanda mengepak barang dari tempat tinggal sebelumnya. Tibalah kami, penuh antusias Nanda memindah barang dari mobil pick up. Tugasku mengangkat properti yang kiranya berat dipapah. Perantara dan beberapa karyawan tempatnya bekerja sudah menyambut kami. Ada beberapa persoalan teknis yang harus dituntaskan, mereka juga membantu kami menata dan memperbaiki beberapa bagian rumah, mulai lapuk. Tapi hingga semua sudah diselesaikan dengan pihak agen rumah, rumah sudah tertata rapi, setidaknya sebelum ketambahan barang lain, Hardi belum kunjung tiba. Masih sangsi rupanya si Hardi setelah aku jadi membeli rumah “impian” ini.


Benar marah aku saat ini pada Hardi, adikku nomer tiga. Bisanya ia mengabaikan jerih payahku, aku gali sana, tutup sini, demi membeli rumah impian kami ber-5. Tinggal di rumah di mana kami dibesarkan, bersama bapak, ibu, mengajarkan bagaimana hidup, termasuk bagaimana melukis. Oh Tuhan, Hardi tak mungkin lupa itu.


Ia mustahil lupa dengan keinginanku bangun ruko. Nanda? Bah, si telaten rela menunda niat meneruskan studi S2 bidang Sains-nya hanya agar bernostalgia dengan rumah ini. Hardi sendiri, ketika bapak dan ibu sudah tidak ada lagi, ia lah yang merengek minta “pulang” ke sini. Ada alasan yang sama sekali kami sepakat jangan disepelekan. “Memajang koleksi lukisan karya bapak di rumah lama kita”, ada satu ruangan spesial biasanya sosok sangat kami puja itu memamerkan sketsa tangannya. Galeri itu melebur roman masa kebahagiaan. Kami bisa mendapati inspirasi melukis di sini, mampu memperelok bakat. Karena katanya orang seni itu “lebih manusia”. Sekarang malah miris, Nanda membentak,”Bagaimana bisa memajang lukisan bapak kalau semuanya ada di Hardi?!”.


3 minggu, tiada haloo dari Hardi. Adik perempuanku mencoba mencarinya di sekolah SD Cahya Mata, sehari-hari ia berprofesi sebagai pengajar. Masih gagal, kami mengomel, tapi kami tahu itu buang waktu. Jadinya, kami menunggu. Sesuatu mengganjal di hati karena kami rindu Hardi, juga lukisannya. Di sela hari, kami berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Wajar jika mereka belum familiar, karena lingkungan di sini sama sekali tak meninggalkan orang-orang terdahulu. Aku sadar, tak bisa membeli kenangan dengan uang. Setidaknya fakta melegakan saat ini adalah kami bisa memulai hidup baru di tempat yang sama seperti dahulu. Kami berlima. Kami semuanya memang belum berkeluarga. 2 orang masih SMA, Nandi, Anda


Nanda menelepon. Katanya berhasil menemukan Hardi. “ Di mana dia?, Kenapa tak menghubungiku langsung?”, “Dia takut”, “Takut apanya?" "Dia membeli rumah baru”,“maksud kamu?". "Katanya sudah punya rumah sendiri , jadinya tak jadi pindah bareng kita". Ku tutup mata untuk tenang. aduh Hardi

, Hardi.














Cerpen: Tara Tak bisa Marah

  Tara, meminjam emosi tetangganya, peri Stankevicius, untuk sekedar mengusir rayap yang mengerubuti meja kesayangannya, sebuah meja bundar tempat ia main boneka. Benar, Tara tak bisa marah, bahkan untuk hal-hal kecil. Menghardik anak-anak kecil singgah depan rumahnya, memanjati pohon cokelat, tak bisa. Kandas ditenggorokan kata-kata keras itu. Kali ini Tara memakai amarah yang dipinjamnya dari sang peri untuk membakar gerombolan rayap, sebagian sudah menggelepar kepanasan dan perlahan hangus dimakan kobaran obor yang dipancangnya diatas sebuah tongkat.




 Emosi kali ini punya durasi, teringat ia wejangan peri. “hmm..sebelum obor ini padam, sebaiknya segera ku hantar marah ini kembali ke empunya”. Ia berjejal ke rumah sebelah. Didengarnya peri sedang bersedih, titikkan air mata, sendu sorotnya lagi siratkan kepedihan kelam. Tara terheran, ia keluarkan sapu tangan merah-hitam dari punggungnya, berusaha menghibur temannya itu. “ah, tak perlu…aku hanya sedang menggunakan sedu-sedan ku untuk sementara waktu, marah kan ada padamu..tertawa lagi kucuci, kagum serta tenang kusimpan rapi dilemari”, ia mengembalikan sapu tangan Tara. Hanya mampu menggangguk, Tara pun bertanya kenapa kali ini emosi yang dipinjamnnya pakai durasi waktu, seperti kendaraan argo saja. Stankevicius sudah kembali ke keadaan normal, “iya, soalnya sekarang musim hujan..aku harus cepat mencuci si emosi, kalau tidak keduluan Guntur dan petir”. Tara menggangguk tanda paham. Peri lalu menggenggam si emosi lalu mengajak Tara ke balkon tempat biasa ia membasuh semua perasaannya.



 Tara melihat awan menggelap, ia membantu peri membasuh-basuh emosi. Peri kernyitkan dahi, ia merasa bahwa emosi tak keburu kering jika harus dijemur sekarang. “Tara, bantu aku mengibaskan emosi, biar cepat bilasnya. Tara menjepit sisi bawah emosi yang basah, dalam hati ia rasa bersalah juga sudah lama memakai perasaan itu, sehingga bisa-bisa tak sempat digunakan peri malam harinya. Sontak, ia ingat laskar rayap yang tadi dibakarnya hidup-hidup; ”Waduh, obornya masih nyala tidak, ya?!”, Tara berlari amat kencang, agak berteriak “Maaf ya, aku ke rumah dulu!”. Peri membiarkannya menjauh, kali ini ia memang tak memakai rasa herannya.



 “Ups..”, desis Tara terhenyak menyaksikan api dari obor menjalar langit-langit rumah. Sejenak dialihkan matanya ke kerumunan rayap yang celaka!; sebagian mereka ternyata lolos!, Tara gagal melakukan pengebirian , padahal tadi sudah pakai emosi peri. Berusaha mengendalikan kebingungan, Tara lalu berteriak minta tolong, sambil mencari sesuatu untuk memadamkan api.



 Dengan gesit, peri bersalto begitu mendengar teriakan kebakaran, sampai sekedip mata sudah menerobos masuk ke dalam rumah Tara. Ia membawa serta seluruh rasanya, yang belum dicuci tentunya. “Tara, berikan tempayan itu”, ia mengambil tempayan berukuran sedang ditangan Tara. Sudah begitu, diletakkanlah rasa tenang dan aman dalam tempayan, lalu wush…., serta merta guyur ke segala arah, termasuk dibagian yang belum terjilat api. Seketika api mulai menjelma jadi kabut hitam perlahan naik tertiup udara, melewati ubin, dan pulang kepangkal senja. Tara terbatuk-batuk namun lega mendapati keadaan sudah kembali seperti semula. Sambil mengeluarkan sisa udara tak bersih di hidung, ia berucap terimakasih kepada peri. Selanjutnya peri memunguti rasa tenang dan aman yang tadi digunakan memadamkan api, pulang, melanjutkan acaranya di balkon. Tara berpikir sekali-kali mungkin memerlukan rasa tenang atau rasa aman untuk dipinjam, bisa juga kedua-duanya!, “sekedar menetralkan suasana kalau-kalau panik seperti barusan” imbuhnya. Di lain rasa, ia mendapati parade rayap kembali, menertawakannya dari pohon cokelat depan rumah, mengacungkan lengan layaknya mengajak berkelahi, Tara pun spontan mengambil obor dimeja, keluar mengejar mereka dengan mata memerah. Ia mengambil pena, meruntuhkan marahnya.

 

                                                                 Adin Ha. Gorontalo, Maret 2012

Baik, saya ingin jadi baik

Baik, ingin jadi orang yang baik, kalaupun ada kebaikan yang ada pada diri ini, maka saya ingin lebih baik.  Saya ingin orang melihat saya s...