Nulisnulis
Semoga mencerahkan...
Thursday, January 29, 2026
Baik, saya ingin jadi baik
Wednesday, January 28, 2026
Mereka yang memilih berjalan Kaki Pedestrian, Spekulasi dan Apresiasi
Di tempat saya tinggal, cukup banyak orang yang memilih berjalan kaki. Bukan sekadar berjalan karena terpaksa, tapi benar-benar menjadikannya pilihan. Terlepas latar belakang, pola hidup, atau jenis pekerjaan mereka, satu hal yang saya amati: mereka melakukannya dengan sadar, berulang, dan konsisten.
Saya lihat mereka berjalan hampir setiap hari—menuju tempat kerja, pulang ke rumah, atau sekadar menyusuri kota. Dari situlah ketertarikan saya muncul. Keren, sehat, sederhana. Lalu muncul keinginan untuk berspekulasi: karakter seperti apa yang mungkin dimiliki oleh orang-orang yang memilih menjadi pejalan kaki?
Ini murni spekulasi. Dan berspekulasi—selama tidak nyeleneh—adalah hak setiap orang. Jadi, izinkan saya merangkum beberapa dugaan pribadi. Jika ada yang kurang tepat, anggap saja sebagai bahan obrolan santai.
1. Mereka kuat dengan prinsip
Bisa benar, bisa juga keliru.
Namun saya melihat para pejalan kaki ini sebagai orang-orang yang cukup kuat memegang pilihan hidupnya. Apa yang mereka lakukan jelas tidak mainstream. Di saat banyak orang lebih memilih menunjukkan kendaraan—motor, mobil, atau tren terbaru—mereka justru memilih berjalan.
Jalan kaki itu melelahkan. Ia butuh kepercayaan diri. Butuh pembiasaan. Apalagi jika harus bertemu orang yang sama hampir setiap hari di rute yang sama. Dibutuhkan keberanian sosial—sekadar membalas sapaan, menyapa lebih dulu, atau tetap berjalan dengan santai tanpa merasa “kurang”.
Dalam konteks ini, saya menyebut mereka “introvert”, bukan berarti mengucilkan diri, tapi berani hadir di ruang publik dengan caranya sendiri.
2. Di luar mainstream, damai di dalam
Saya cukup yakin satu hal: mereka menikmati apa yang mereka lakukan.
Berjalan kaki adalah hobi yang murah, sehat, dan jujur. Tidak banyak tuntutan. Tidak perlu validasi. Sambil berjalan, mereka bisa menikmati suasana kota, memperhatikan perubahan sekitar, atau sekadar membiarkan pikiran mengalir.
Tanpa terasa, sampai ke tujuan, tujuan pun tercapai,
Dan rasanya… menyenangkan.
Jika itu bukan bentuk kebahagiaan sederhana, lalu apa?
3. Sehat luar dan dalam, aamiin
Pilihan olahraga hari ini sangat beragam. Banyak yang terlihat lebih keren, lebih modern, bahkan lebih “niat”. Tapi berjalan kaki tetap punya tempatnya sendiri.
Aktivitas fisik ringan yang konsisten, seperti berjalan, sudah memenuhi kebutuhan dasar tubuh. Ia menurunkan stres, menjaga kebugaran, dan membuat tubuh lebih siap menghadapi aktivitas lain walaupun mungkin tidak terlihat atletis.
Saya menduga mereka punya harapan/ tagline: no stress inside, health outside.
4. Ada jiwa petualang—dan mungkin gemar mengabadikan momen
Pejalan kaki cenderung memilih rute tertentu. Mereka menghindari jalanan padat, bising, dan penuh polusi. Sebaliknya, mereka lebih sering terlihat di jalur yang tenang, teduh, dan punya pemandangan.
Di situlah saya melihat "jejak petualang" mereka. Menikmati detail. Mengamati suasana. Bahkan mungkin berhenti sejenak untuk memotret atau sekadar memperhatikan sekitar.
Berjalan kaki membuat kota terasa lebih dekat dan lebih manusiawi.
5. Mereka tidak suka mencari masalah
Spekulatif.
Namun saya melihat kecenderungan bahwa mereka memilih ketenangan. Tidak ingin berdesakan. Tidak ingin tergesa. Tidak ingin terjebak konflik kecil di jalanan.
Kita semua tahu, berkendara di tengah kemacetan kadang menguras emosi. Dengan berjalan kaki, mereka menjaga jarak dari potensi itu. Singkatnya: menjauh dari masalah yang sebenarnya tidak perlu.
Baik, ini hanya opini. Bisa mendekati kebenaran, bisa juga jauh melenceng. Yang ingin saya berikan di atas semua,: apresiasi.
Untuk membahasnya dari sisi kesehatan, lingkungan, budaya, atau psikologi secara ilmiah, itu bukan ranah saya. Saya hanya penulis yang menuliskan apa yang terlintas di pikiran.
Tulisan ini sudah lama ingin saya buat. Temanya memang di luar kebiasaan coretan saya di blog. Tapi cukup menggelitik untuk ditulis.
Wassalam.
Friday, August 29, 2025
Rasa dalam berbahasa
Ingin Menulis (lagi)..
Sabtu 22 Juni 2024 at Wisuda Kelulusan Angkatan ke VII SDIT QURRATU A'YUN
Ingin menulis lagi, entah apa
Yang jelas ingin menghempaskan semua di sini
Kadang kita harus sedih, namun tahanlah
Hamba tak boleh mengeluh
Mengeluh itu padaNya
Pejamkan mata dan biarkan berlalu semua
Jangan simpan, nanti sulit kita pula
Lepaskan, karena tiap hari adalah ujian
Tenang
Lega lah
Ingin menulis (lagi)
Harus Tenang, Harus Diam
Lelaki harus tenang, harus diam..
Duduk dan Hela
Kalau tak bisa dipikirkan maka diamlah,
Kalau belum bisa renungkan maka tenanglah
Berbaring, sandarkan semua padaNya
Sujudlah, serahkan semua pada Nya
Karena sejak awal Dia lah
Yang berkehendak atas kita
Jangan berat mengangkat tangan
Jangan malas karena kita hanya perlu meminta
Jangan risau karena hari susah dan mudah itu dipergilirkan, jelasNya
Bersama kesulitan ada kemudahan, tegasNya
Badai pasti segera berlalu, hiburNya
Jadi tolong tenanglah, diamlah
Sehat selalu semua dan berserah ..
Monday, May 26, 2025
Cerpen: Aduh Hardi
Adin Harmain, 2013.
Kalau dihitung, lima kali aku berkunjung ke rumah ini. Si agen yang tugasnya sebagai perantara juga tak jenuh menemani aku melihat-lihat serta menceritakan beberapa hal yang perlu diketahui oleh selayaknya calon pembeli rumah. Rumah yang tidak ditinggali sejak sekitar dua belas tahun lalu. Berdasarkan cerita si perantara, rumah ini tak lagi ditempati sebab pemilik rumah yang sebelumnya terbelit hutang-piutang dengan salah seorang “pemerintah” kelurahan setempat.
Akibatnya, si pejabat yang konon sering mendalangi penipuan dan kasus perdata tanah, rumah dan banyak lagi segera ditindak oleh petugas berwenang. Warga disitu tak pernah mendengar kabarnya semenjak penangkapan dua belas tahun lalu. Demikian halnya dengan si pemilik rumah. Bapak yang katanya seorang penulis terlanjur malu dengan tetangganya karena masalah itu, ia memutuskan pindah, meskipun masalah sebenarnya sudah dibereskan. Beserta istri dan lima anak, mereka pergi, katanya tak pernah pamit pada tetangga sekitar. Dengan tanpa jejak mereka lalu menjual rumah itu ke pihak agen rumah dan properti.
“Bagaimana pak?”. Saya terdiam lagi ketika pertanyaaan senada dilontarkan. “Ok, baik. Saya tahu, bapak perlu waktu memutuskan, perlu diskusi sama keluarga, istri, anak. Ok, silakan pikirkan dulu, saya masih ada urusan lain”. Saya ingin menyela, bapak itu keliru mengatakan beberapa hal. Ia meninggalkan saya di depan rumah itu. Mematung, menimbang apakah bagi seorang arsitek seperti saya cukup efektif untuk berdomisili di rumah yang jauh dari pusat kota?.
“Sudah, kemarin dicek lagi, sedikit saja harus kita benahi, selebihnya masih bagus”.”Terserah lah, aku sih yang penting nyaman, aman”. “Kira-kira Hardi bakal mau?”. “Tanya langsung ke orangnya”. “Ya sudah,”.
“Berarti kemungkinan pindah 60%”, batinku. Semuanya kini tergantung padaku. Soal harga, itu bukan masalah. Namun ada beberapa yang harus di pertimbangkan. Kuarahkan sepeda motor kearah taman kota, duduk “bersemedi” sepertinya akan membantu. Hingga petang, aku masih saja duduk terpaku. Memaksa daya otakku agar semuanya tepat, jangan sampai ada yang keteteran nanti.
Akan ada budget lebih. Kami harus melepas rumah kami yang sekarang. Dan lagi, aku harus membuat ruang gambar di sana, sementara bangun sekat dulu, nanti kupikirkan bagaimana mendesainnya. Tapi biarlah, yang penting semua berjalan sesuai diharapkan. Kali ini aku tak mau berbuat sesuatu yang mengecewakan. Segera ku tekan beberapa kontak di handphone. Tak lupa kuhubungi juga perantara yang seharian mengirim pesan, menanyakan kepastian aku jadi membeli rumah atau tidak.
Akhir pekan, aku dan Nanda mengepak barang dari tempat tinggal sebelumnya. Tibalah kami, penuh antusias Nanda memindah barang dari mobil pick up. Tugasku mengangkat properti yang kiranya berat dipapah. Perantara dan beberapa karyawan tempatnya bekerja sudah menyambut kami. Ada beberapa persoalan teknis yang harus dituntaskan, mereka juga membantu kami menata dan memperbaiki beberapa bagian rumah, mulai lapuk. Tapi hingga semua sudah diselesaikan dengan pihak agen rumah, rumah sudah tertata rapi, setidaknya sebelum ketambahan barang lain, Hardi belum kunjung tiba. Masih sangsi rupanya si Hardi setelah aku jadi membeli rumah “impian” ini.
Benar marah aku saat ini pada Hardi, adikku nomer tiga. Bisanya ia mengabaikan jerih payahku, aku gali sana, tutup sini, demi membeli rumah impian kami ber-5. Tinggal di rumah di mana kami dibesarkan, bersama bapak, ibu, mengajarkan bagaimana hidup, termasuk bagaimana melukis. Oh Tuhan, Hardi tak mungkin lupa itu.
Ia mustahil lupa dengan keinginanku bangun ruko. Nanda? Bah, si telaten rela menunda niat meneruskan studi S2 bidang Sains-nya hanya agar bernostalgia dengan rumah ini. Hardi sendiri, ketika bapak dan ibu sudah tidak ada lagi, ia lah yang merengek minta “pulang” ke sini. Ada alasan yang sama sekali kami sepakat jangan disepelekan. “Memajang koleksi lukisan karya bapak di rumah lama kita”, ada satu ruangan spesial biasanya sosok sangat kami puja itu memamerkan sketsa tangannya. Galeri itu melebur roman masa kebahagiaan. Kami bisa mendapati inspirasi melukis di sini, mampu memperelok bakat. Karena katanya orang seni itu “lebih manusia”. Sekarang malah miris, Nanda membentak,”Bagaimana bisa memajang lukisan bapak kalau semuanya ada di Hardi?!”.
3 minggu, tiada haloo dari Hardi. Adik perempuanku mencoba mencarinya di sekolah SD Cahya Mata, sehari-hari ia berprofesi sebagai pengajar. Masih gagal, kami mengomel, tapi kami tahu itu buang waktu. Jadinya, kami menunggu. Sesuatu mengganjal di hati karena kami rindu Hardi, juga lukisannya. Di sela hari, kami berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Wajar jika mereka belum familiar, karena lingkungan di sini sama sekali tak meninggalkan orang-orang terdahulu. Aku sadar, tak bisa membeli kenangan dengan uang. Setidaknya fakta melegakan saat ini adalah kami bisa memulai hidup baru di tempat yang sama seperti dahulu. Kami berlima. Kami semuanya memang belum berkeluarga. 2 orang masih SMA, Nandi, Anda
Nanda menelepon. Katanya berhasil menemukan Hardi. “ Di mana dia?, Kenapa tak menghubungiku langsung?”, “Dia takut”, “Takut apanya?" "Dia membeli rumah baru”,“maksud kamu?". "Katanya sudah punya rumah sendiri , jadinya tak jadi pindah bareng kita". Ku tutup mata untuk tenang. aduh Hardi
, Hardi.
Cerpen: Tara Tak bisa Marah
Tara, meminjam emosi tetangganya, peri Stankevicius, untuk sekedar mengusir rayap yang mengerubuti meja kesayangannya, sebuah meja bundar tempat ia main boneka. Benar, Tara tak bisa marah, bahkan untuk hal-hal kecil. Menghardik anak-anak kecil singgah depan rumahnya, memanjati pohon cokelat, tak bisa. Kandas ditenggorokan kata-kata keras itu. Kali ini Tara memakai amarah yang dipinjamnya dari sang peri untuk membakar gerombolan rayap, sebagian sudah menggelepar kepanasan dan perlahan hangus dimakan kobaran obor yang dipancangnya diatas sebuah tongkat.
Emosi kali ini punya durasi, teringat ia wejangan peri. “hmm..sebelum obor ini padam, sebaiknya segera ku hantar marah ini kembali ke empunya”. Ia berjejal ke rumah sebelah. Didengarnya peri sedang bersedih, titikkan air mata, sendu sorotnya lagi siratkan kepedihan kelam. Tara terheran, ia keluarkan sapu tangan merah-hitam dari punggungnya, berusaha menghibur temannya itu. “ah, tak perlu…aku hanya sedang menggunakan sedu-sedan ku untuk sementara waktu, marah kan ada padamu..tertawa lagi kucuci, kagum serta tenang kusimpan rapi dilemari”, ia mengembalikan sapu tangan Tara. Hanya mampu menggangguk, Tara pun bertanya kenapa kali ini emosi yang dipinjamnnya pakai durasi waktu, seperti kendaraan argo saja. Stankevicius sudah kembali ke keadaan normal, “iya, soalnya sekarang musim hujan..aku harus cepat mencuci si emosi, kalau tidak keduluan Guntur dan petir”. Tara menggangguk tanda paham. Peri lalu menggenggam si emosi lalu mengajak Tara ke balkon tempat biasa ia membasuh semua perasaannya.
Tara melihat awan menggelap, ia membantu peri membasuh-basuh emosi. Peri kernyitkan dahi, ia merasa bahwa emosi tak keburu kering jika harus dijemur sekarang. “Tara, bantu aku mengibaskan emosi, biar cepat bilasnya. Tara menjepit sisi bawah emosi yang basah, dalam hati ia rasa bersalah juga sudah lama memakai perasaan itu, sehingga bisa-bisa tak sempat digunakan peri malam harinya. Sontak, ia ingat laskar rayap yang tadi dibakarnya hidup-hidup; ”Waduh, obornya masih nyala tidak, ya?!”, Tara berlari amat kencang, agak berteriak “Maaf ya, aku ke rumah dulu!”. Peri membiarkannya menjauh, kali ini ia memang tak memakai rasa herannya.
“Ups..”, desis Tara terhenyak menyaksikan api dari obor menjalar langit-langit rumah. Sejenak dialihkan matanya ke kerumunan rayap yang celaka!; sebagian mereka ternyata lolos!, Tara gagal melakukan pengebirian , padahal tadi sudah pakai emosi peri. Berusaha mengendalikan kebingungan, Tara lalu berteriak minta tolong, sambil mencari sesuatu untuk memadamkan api.
Dengan gesit, peri bersalto begitu mendengar teriakan kebakaran, sampai sekedip mata sudah menerobos masuk ke dalam rumah Tara. Ia membawa serta seluruh rasanya, yang belum dicuci tentunya. “Tara, berikan tempayan itu”, ia mengambil tempayan berukuran sedang ditangan Tara. Sudah begitu, diletakkanlah rasa tenang dan aman dalam tempayan, lalu wush…., serta merta guyur ke segala arah, termasuk dibagian yang belum terjilat api. Seketika api mulai menjelma jadi kabut hitam perlahan naik tertiup udara, melewati ubin, dan pulang kepangkal senja. Tara terbatuk-batuk namun lega mendapati keadaan sudah kembali seperti semula. Sambil mengeluarkan sisa udara tak bersih di hidung, ia berucap terimakasih kepada peri. Selanjutnya peri memunguti rasa tenang dan aman yang tadi digunakan memadamkan api, pulang, melanjutkan acaranya di balkon. Tara berpikir sekali-kali mungkin memerlukan rasa tenang atau rasa aman untuk dipinjam, bisa juga kedua-duanya!, “sekedar menetralkan suasana kalau-kalau panik seperti barusan” imbuhnya. Di lain rasa, ia mendapati parade rayap kembali, menertawakannya dari pohon cokelat depan rumah, mengacungkan lengan layaknya mengajak berkelahi, Tara pun spontan mengambil obor dimeja, keluar mengejar mereka dengan mata memerah. Ia mengambil pena, meruntuhkan marahnya.
Adin Ha. Gorontalo, Maret 2012
Monday, November 24, 2014
Permainan & Dunia Anak; “Namanya juga permainan, ……”
Sumber: Gunarsa, Singgih. 1995. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, Wauran. M.H. 1977. Pendidikan anak sebelum sekolah. Bandung: Indonesia Publishing House.
Kandas
by Adin Harmain
Hubungan. Periode peradaban telah membawa sosialita menyentuh ranah multilateral, secara studi dan ilmu penerapan disebut Hubungan Internasional. Menurut buku Rencana Strategi Pelaksanaan Politik Luar Negeri RI (Renstra), HUBUNGAN INTERNASIONAL (HI) adalah hubungan antar bangsa dalam segala aspeknya yang dilakukan oleh suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional. Entah kali keberapa Indonesia sebagai negara yang “ikut melaksanakan ketertiban dunia” telah banyak bergerak, juga banyak dirugikan dalam relasi model begini. Hubungan yang parasit atau mutualis?.
Why do I have to smile?
Why do we have to smile? For some reason, people said it’s stimulate our body to be inside and outside healthy. Some of us believed that smile can make others feel comfort staying beside us. Rasulullah Saw., as the best teacher also teach us to keep smiling, as a sign of give, share, and even the value from ALLAH SWT. were really guaranteed for one who always smile.
However, different people in different countries conserved smile in varieties, such as in Japan; smile were informal because they think smile is only available for mom-kids or husband-wife relationship. It were not polite to smile or laugh with someone who has higher position than us (in office, corporation, parliament). The particular certainly comes trough different culture. In Indonesia, it was a gigantic fundamental about smile, since this attitude has cover all of our identity, from Sabang to Merauke. We are a humble and nice country.
A phenomenon then comes to ours, that many disaster and crisis seems decreasing our identity. It is normally happen, for example alike someone who having hard days, lot of trouble, and confuses. There will need big heart and much sacrifices to get through these. Similar with the situation, our country does need big heart to facing hard times. It might caused sadness, but do not dropped by. We must continue our positive personality as a nation, which is smile itself, and it absolutely need time for recover it. Well, according to me, who is really no-one and not great as the smiling people, smile could turn the control of mind, and could make everything possibly fixed. That does not mean that we are too relax about life and problems, but smile is an optimism. Anyway, the days may be cruel, but we can heal it…just smile and the world will be colorful for you…..I don’t know what else to write, but all I can do today is smile, Hihi :)
This what was called Bilingual Education
The first factor in appearing this issue is the world of the twenty first century is inescapably bicultural and multicultural. Prensy (2012) said that bilingual is situation appears at native era that has communication between human by major then second language or foreign language. Therefore, blilingual is term that indicates how aspects of life were used in two languages; it could be multilingual if it were more than two languages. This even could be digital native-era that can cause real and virtual relationship. In Indonesia, this system has already happen in some school that role as pilot project.
The history
Before this mentioned century there are communication happen between people in the world, so there are many reason for building this bilingual term (Lewis:1976). These are the fact:
- Rome teach Greek in school was also using Greek alphabet without controversial
- Luxembourg and European school
The system (Immersion)
Does bilingual education work? This is a fact that in the earlier 1960’s day of declaration for official languages acts in Quebec, Canada. The French Canadian whose taught in Canada’s kindergarthen? The limitation of teacher makes them transferring teacher and produce bilingual, but they have complain about that. Next, it was so many Christian French school, Christian Canada school etc, they were at the same curriculum.
The Nationalism correlation
Hornberger (2001) said that the concept of one nation one language, signaling unification. But denationalization caused by bilingual is never occurred for a number of major language world languages such as English, Spanish, and Russian which destruct the world. In our country, that thing is also happen.
Language Policy
According to the policies in Indonesia, the establishment of bilingual education compound in Content/ SI (standar isi) and SKL about x agreement;
- Generic structure for English subject in International Standard School/ SBI areSNP+X1,X2,X3,X4, dan X5
- X1: English is language used related to teach English, maths, science and technology, and communication outside class.
- X2: English subject being taught has to be related with general subjects.
- X3: English taught by facilites of information and technology center.
- X4: Also have to taken cross culture understanding.
- X5: English accomplish the growth of children’s intelligence.
Baik, saya ingin jadi baik
Baik, ingin jadi orang yang baik, kalaupun ada kebaikan yang ada pada diri ini, maka saya ingin lebih baik. Saya ingin orang melihat saya s...
-
Di tempat saya tinggal, cukup banyak orang yang memilih berjalan kaki. Bukan sekadar berjalan karena terpaksa, tapi benar-benar menjadikanny...
-
Adin Harmain, 2013. Kalau dihitung, lima kali aku berkunjung ke rumah ini. Si agen yang tugasnya sebagai perantara juga tak jenuh menemani...
.jpeg)


