Saturday, November 17, 2012

"Memperlakukan" Teknologi di era Teknologii

  Tulisan tentang konsep dan visi dalam berteknologi dan dampak penggunaannya. Mungkin orang lebih suka membahas: Apa yang terjadi "Gara-Gara Teknologi.." ? .Bukan semata pengaruh buruk teknologi yang dimunculkan, namun mari tinjau tentang bagaimana perubahan kecil menyeruak di zaman kita sekarang, oleh Prensky (2012) disebut "digital-native era", sebuah era yang bukan saja dipenuhi multikultural aspek dalam kehidupan sehingga ada yang dikenal native art (segala sesuatu tentang tindak asli) dan foreign art (asing), tapi juga cara kita berkomunikasi dalam balutan multi budaya lewat media digital.Media digital, biasa di sebut on line-offline term, techno, atau hi-tech pun memiliki peran yang tidak sedikit dalam usaha manusia memenuhi, menjawab tuntutan hidup sehari-hari. 

   Nanti dulu, sejak perubahan epistimologi dari alat bantu berkaitan dengan dunia sains saja pada awal 1800 an, teknologi telah berangsur menciptakan media yang bahkan sekarang memungkinkan diakses dengan item virtual, ke  perluasan kegunaan untuk semua hal partikular. Dapat menghemat waktu, tenaga, biaya serta praktis adalah faktor yang diungkapkan para pengguna untuk "bersenang-senang" dan tergiring pelan menuju ketergantungan. 

  Dapat berbahaya, karena barometer terendah dan terburuk dari hal ini adalah manusia tidak mau melakukan apa-apa tanpa adanya akses teknologi  sama sekali di lingungannya. Imbas ini dapat segera dicegah dengan pemakaian brainware, yakni manusia itu sendiri, dengan tangguh, jeli, dan benar dalam memperlakukan software dan hardware. Sebaiknya ada semacam saringan yang dibuat berdasarkan penguasaan teknologi informasi, nilai moral serta daya tepat-guna.

  Manusia bisa berdalih bahwa teknologi, contohnya media digital, dapat mempermudah urusan, semakin banyak teknologi dapat dipakai, semakin mudah pula jalan keluar dislesaikan dalam teknik menyibukkan diri. Pemikiran ini menimbulkan custom (pembiasaan), namun setiap kita bisa dengan logis melihat perubahan kecil yang penulis paparkan tadi di awal artikel. Tepatnya, sebuah indikasi haruslah ditempuh supaya target besar boleh dipenuhi. Kita sering lupa, indikasi yang biasa namun berulang dapat memiliki efek buruk terhadap tujuan yang ingin digapai.

  Orang menggunakan media digital untuk jejaring sosial, berinteraksi dengan dunia global. Singkatnya menambah banyak teman. Di sisi lain, ia tidak sadar juga telah membuat batas antara dia dengan orang lain karena lebih banyak berkomunikasi lewat Facebook (FB), misalnya dibanding dengan frekwensi tatap muka di kehidupan nyata sekalipun dengan teman kantor atau tetangga. Untuk keluarga atau kerabat jauh jauh, akan hilang rasa berusaha keras untuk bisa bertemu langsung. Silaturahmi hilang. Mendekatkan yang jauh, tapi pada waktu yang sama menjauhkan yang dekat.

  Intinya, perubahan yang dibawa semenjak abad 19 itu telah menyertakan juga fantasi canggih yang diimpikan semua orang. Objek pemenuhan kebutuhan lebih banyak dapat dijangkau, sekejap mata. Objek yang ingin di kembangkan tinggal butuh sebuah tuas, tombol, atau apapun agar membuatnya berkembang, pesat. Di luar batas kesadaran, dengan kata lain di dalam candu dunia maya, manusia telah mendepak hal kecil yang bisa jadi penyebab kebahagiaan besar hakiki dapat tercipta. Begitulah situasi menarik ini terjadi. Sebuah fenomena yang indah penulis kira, tanpa terlalu menunjukkan emosi yang berlebih dalam tulisan ini. Betapa tidak, anda "bersenang-senang" dengan fasilitas disebut teknologi ini, sedangkan konsekuensinya  jangan sampai menjadikan ini sebuah bahan "mainan" dengan kesenangan yang anda miliki, karena jika teknologi mendapat perlakuan seperti itu, maka boleh saja ia yang akan mempermainkan anda. Tetaplah tinggal dalam jalur pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu. 

___Adin Harmain


Monday, February 27, 2012

Air meluap sampai sekolah ( Lagi )

   Pengembangan infrastruktur di Gorontalo yang terhitung masif ternyata tidak berimbang dengan tindak pencegahan pihak terkait akan adanya ancaman teknis yang memungkinkan rusaknya infrastruktur tersebut. Seperti diberitakan antaranews.com (22/12/2012), meluapnya banjir di daerah agropolitan ini menyebabkan salah satu bangunan sekolah (smpn 7 Gorontalo) harus meliburkan siswa-siswanya akibat area yang digenangi air tidak memungkinkan melakukan kegiatan belajar mengajar. Akibat naiknya air ke gedung sekolah juga membuat siswa kehilangan buku pelajaran yang tersimpan di salah satu ruangan seluruhnya basah dan rusak. Pihak sekolah kemudian mengerahkan para siswa untuk membantu membersihkan dan "menyelamatkan" sekolah mereka saat dan pasca-banjir. 


   Aksi "save the school" memang membantu siswa untuk mempercepat pemulihan kondisi sekolah pasca banjir. Namun, lebih dari itu, patutnya para siswa hari ini dalam keadaan yang tahu beres, masuk sekolah, belajar, menggunakan fasilitas sekolah yang tersedia. Tak pantaslah dalam keadaan seperti ini, sehingga yang harus di jadikan bahan kajian adalah tata ruang gedung sekolah yang dimaksud. Pengalih peranan aksi dari warga sekolah termasuk siswa ke pihak-pihak yang bertanggung jawab (seharusnya) dalam hal ini memang berdasar, sebab nyatanya, dalam setiap insiden air meluap, gedung SMP negeri 7 itu memang dikenal sering ditmpa  banjir, karena letaknya rendah, dekat sungai pula. Benar adanya, sekolah ini termasuk sekolah yang lama berdiri (awal 1970-an) di kotamadya Gorontalo, yang pada saat ini memang perlu tindak pencegahan terhadap serangan banjir, di carikan lokasi yang lebih aman, atau renovasi, bangunan dibuat lebih tinggi dari saluran selokan air setempat, halaman sekolah harus selalu kering, serta pengaliran airnya baik. Perlu juga diperhatikan resapan air dan saluran drainase air hujan untuk menunjang kebersihan, kesehatan, dan konservasi air tanah (SMP1 Majalengka; Pengelolaan sarana dan prasarana sekolah). 


   Solusi pun tinggallah solusi, jika tidak segera dikerjakan dengan cepat dan tanggap. Tuntutan ini menilik pada kondisi siswa yang butuh ruang belajar dan fasilitas sekolah yang terjaga sehingga masih bisa digunakan secara berkelanjutan. Jawabannya tidak lain ada pada pemerintah, karena sekolah termasuk sarana publik, dan tentulah milik negara. Duhai para bapak yang duduk ditampuk kebijakan, siagalah! bekerjalah! yakinlah semua pasti bisa teratasi!..aamiiin. (Sebuah kabar baik penulis dengar terkait pemerintah dan perannya terhadap penanganan banjir kota Gorontalo, semoga tidak menjadi kabar nan sekadar surga telinga ya, pak. Simak di http://www.gorontalokota.go.id/home/info/1526)  _AdinHa

Friday, February 3, 2012

Review Setelah Menulis Skripsiku

   Penelitian kuantitatif; sebagai salah satu penelitian"praktis" bagi penulis karena:1.Hanya perlu memilih statistika yang sinkron dengan situasi yang keluar sebagai hasil penelitian. 2. Menyatukan dua konsep pemaparan; deskripsi (proses) dan preskriptif (teknik), kita kesampingkan dulu hasil merujuk poin ke-2 ini.

   Baiklah, ada penjelasan dari konsep yang saya kemukakan diatas. Segala pemikiran bukanlah suatu kebetulan, tapi pastinya bedasarkan pada real object di sekitar. Saat masa kuliah, penulis mendapati pesimistis dari mahasiswa/-i yang akan menyusun skripsi, which is akan menyongsong hari kelulusan untuk tinggalkan kampus tercinta. Mengapa ada kata"akan"? ya! tepat! karena kebimbangan ini didapati pada subjek yang baru akan membuat kerangka ide untuk dituang dalam skripsi; biasa disebut draft, atau outline.

   Melangkah ke fase outline dengan berbekal penelitian kuantitatif, masih menurut mereka, adalah resiko besar, karena perhitungan statistik yang dibutuhkan akan menyita waktu dan tempat (baca: halaman) outline. Ada yang beralasan tidak menyukai perhitungan yang rumit (padahal tak ayal data yang ada akan lebih akurat jika melalui hitungan empirik), maupun lebih mahir berteori dan cuap-cuap berdasarkan pola awal deskriptif kualitatif (yang lebih sering berorientasi pada hasil, bukan tujuan). Yah, itu pilihan mereka.

   Tidak buruk sama sekali apa yang mereka ambil, namun berpijak diatas alasan kerumitan, tidak butuh pendukung untuk data, yang kuanti sangat berperan di lini itu; adalah sebuah fakta yang menyedihkan. Perhitungan statistik adalah media praktisi menjawab pertanyaan yang dipertanggungjawabkan, jika sudah menggunakannya, maka kesan yang didapat jauh dari kata rumit, karena ibaratnya angka-angka yang tertuang sudah menjadi pembuka jalan bagi latarbelakang penelitian kita yang sebelumnya simpang siur dalam kerangka/ draf. Memang, sudah bukan saatnya menyalahkan perkuliahan statistik yang sudah menempa para mahasiswa. Dalam tingkatan ini, seharusnya mereka bahkan dituntut untuk memilih jalan mana yang  sederhana, shortcut, namun elegan untuk meraih tujuan penelitian. Oleh karena ini adalah tahap penguatan eksistensi mahasiswa itu sendiri.

   Kuantitatif; proses keingintahuan yang berasas pada variabel-variabel valid dan terbukti konkret dalam paparannya. Pengertian yang serta-merta tak bisa kita vonis sebagai penelitian berbelit dan akan lebih mudah jika kita menggambarkannya tanpa data yang wasting. Penggambaran, atau deskriptif yang timbul disini justru lebih efektif untuk menjelaskan kenyataan yang kita lihat, namun tidak dilihat orang lain, termasuk para dosen penguji.

   Hal ini dialami sendiri oleh penulis yang mengambil judul skripsi "Correllation between students' vocabulary and reading comprehensive", yakni penelitian berdasarkan minat pada hubungan sederhana yang mempengaruhi skill luar biasa anak-anak didik. suatu anggapan dasar yang penulis pegang pada akhir skripsi bisa padu dengan teori korelasi. Berawal dari  masalah, kesimpulan serta solusi yang ditawarkan adalah hal mutlak mengacu pada komposisi vocabulary, reading comprehension, dan pengaruhnya terhadap masing-masing siswa, bukan nyeleneh secara umum. Penulis menemukan hal mendasar dalam problematika mereka membaca dan memahami bahasa Inggris. Walaupun, ingin penulis tegaskan disini bahwa cara itu BISA SAJA ditempuh dengan metode kualitatif, namun sebatas menyebutkan apa hubungan negatif dan positifnya. Tapi itulah, pemakaian statistika yang sinkron pada tujuan penelitian hasilnya mendukung untuk menemukan hubungan negatif dan positif yang imbas dikedua variabel vocabulary dan reading comprehension

   Setelah bermain dengan angka-angka, tiba kita pada pembuktian lewat kata-kata yang manjur didepan siapapun penguji. Jangan lupakan deskriptif, penjelasan, dengan preskriptif saling mendukung. Secara jelas, bahwa analisis data yang sebelumnya dikerjakan harus valid, tidak bisa gantung, karena pasti akan mengalami penolakan dalam hasil yang diperoleh. Maka analisis inilah yang bertindak sebagai preskriptif, bagaimana teknik kita mencapai tujuan, dan mendeskripsikan maksud kita membuat penelitian dan menentukan solusi yang takarannya tepat, tak kurang, tak lebih.

   Pengkajian yang penulis lakukan tentang penentuan konsep "sederhana" penelitian kuantitatif, murni agar khalayak tidak keliru memilih metode penelitian dari sudut pandang seorang peneliti kuantitatif, namun tidak berarti anti-kuali.Tak punya maksud menjatuhkan metode yang lain. Adapun setiap metode adalah pilihan kita, sebagai mahluk yang tak terlepas dari kekurangan dan mesti banyak belajar, tapi juga kita dibekali oleh akal sifatnya akademis sehingga bertumpu pada alasan kerumitan metode menurut penulis sangatlah tidak relevan.

Apriyadinulisbebas

Baik, saya ingin jadi baik

Baik, ingin jadi orang yang baik, kalaupun ada kebaikan yang ada pada diri ini, maka saya ingin lebih baik.  Saya ingin orang melihat saya s...