Monday, February 24, 2014

Syair tua



 yang tua bukan syairnya..tapi perempuan yang berjejal melawan di saujana hari
Ia mengungkit, membela sisa tenaga untuk digerakkan dari sebuah tandan kehidupan
Aku terkagum saksikan pejuang itu, “hola perempuan!”, kami melihatmu sebagai ksatria jelmaan
Apalagi yang tersisa untuk di buktikan? Tak tahulah, yang jelas kau hanya punya sisa-sisa kenangan
Tak luluh, tak lantak di tengah ketakberdayaan..


tirto.id

“Pendidik-kan?”


Gorontalo, Agustus 2013. Tulisan ini dibuat oleh seorang sarjana pendidikan yang masih berusaha menerapkan  apa itu pendidikan serta bagaimana pendidikan berafiliasi terhadap gelar yang saya emban, yang saya tahu pendidikan terbaik datang dari Islam, dan saya percaya itu.
Terserah apa kata anda saat membaca potongan kalimat keluh diatas. Terserah, anda bebas mengartikan “saya nya yang kurang belajar dengan giat saat kuliah, atau dosen nya yang terlalu aktif mempasifkan mahasiswa saat dikelas”. Lha?  Terserah lah menilai, sebebas kementerian pendidikan yang sekenanya mengubah kurikulum yang saya ketahui sudah baru lagi, padahal menteri/ kabinet ini rencananya, maaf, mau diganti tahun depan, pemilihan presiden sudah menanti dalam waktu dekat.



Motif setipe bahkan sudah jadi kemakluman orang banyak. Kabinet baru, kebijakan baru. Entah karena keberadaan pemimpin negara baru, atau karena gengsi melanjutkan sistem yang sudah ada. Padahal, kinerja yang apik dari pemerintahan, kini terkait dengan lampau, hendaknya dipertahankan meski di sebagian sektor riil lain banyak terdapat yang dalam istilah industri dikenal sebagai “gagal produk”.  Alih-alih meningkatkan (lebih dari mempertahankan), pendidikan telah merubah total cara kerjanya yang dibahasakan dengan kurikulum setidaknya 5 kali selama saya duduk dan berdiri di bangku sekolah dulu.
Apa yang salah? Para pelaksana sistem kah? Guru-dosen? Atau bisa saja siswa-mahasiswa di negeri kita? Ya sudah, saya tak mau mengkritisi panjang lebar apa yang tidak saya pahami layak nya saya tulis di atas. Yang saya ketahui adalah kami, sarjana pendidikan adalah bagian dari pelaksana sistem tersebut. Segala doktrin, harapan dan macam basa-basi digantungkan. Anda;  orang tua siswa, mahasiswa, segenap elemen masyarakat  harus tahu, tidak semua dari kami tidak paham dengan kuliah kependidikan bangsa ini (baca; seperti saya). Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen pasal 4, (kurang lebih) menyatakan; yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Bahwa pendidikan membutuhkan pendidik atau orang yang digugu-ditiru dengan tauladan yang menyeluruh, yang mengerti makna pendidikan, juga mahir menjalankan “roda pendidikan”, itu 100% benar.   Tapi…
Catat ya…; Guru bukan hanya tentang performa, yang wajib bagi masing- diperbaiki secara perorangan, ada berbagai pendukung lain yang perlu pula distabilisasi dan jangan diubah-ubah, yakni kepada apa guru sedianya berkiblat, dan tujuan konten diajarkan itu apa. Dinamis, tapi tetap berkala. Agar tolok ukur wadah pendidik secara keseluruhan bisa terus diamati, program serta capaian kemarin bisa disinambungkan. Apa jadinya kalau satu orang guru dalam masa abdi nya selama 3 tahun, misalnya, diharuskan mempelajari, menyusun serta menerapkan 2-4 silabi kurikulum berbeda setiap tahunnya? Ini akan jelas berdampak pada performa guru tersebut. Jangan salahkan juga jika ada guru yang senewen jika dalam suatu kesempatan seorang wali murid bertanya buku apa yang akan dibeli, kok tiap tahun ganti-ganti?

Sunday, March 17, 2013

“Padahal disini saja” ( bikinan ala guru)



Padahal disini kita bisa matangkan paruh sikap mereka
Padahal disini kita kuncupkan idem mereka
Padahal disini kita bentang lisan mereka
Padahal disini kita tuang tinta mereka
Lalu biarkan mereka petik disana,
yang dinama mulia, cendekia, dan surga____


Tuesday, February 19, 2013

A’ambuwa Ungala’a


Gorontalo, Juli 2011

Akhir pekan, malam hari, kami tiba didepan lokasi acara tempat seorang kenalan melaksanakan pesta resepsi pernikahannya. Acara bertempat dirumah pengantin wanita, saya pun menunggu teman-teman yang memarkir kendaraan di area yang sudah disediakan, di pekarangan rumah tetangga yang punya hajatan tepatnya. Selesai memarkir, kamipun masuk bersama di sambut oleh penyambut tamu disisi rangkaian janur yang terpasang didepan pintu masuk halaman rumah. Kamipun langsung disapa oleh rekan kami, sang tuan rumah, sejatinya adik dari si pengantin, ialah yang mengundang kami ke pesta pernikahannya kakaknya.
Mengambil tempat didalam rumah, kami mengikuti prosesi resepsi sampai selesai. Sekilas memang tampak biasa saja, tak ada perbedaan yang kami rasakan dengan menghadiri acara digedung tempat biasa diadakan pesta. Seperti acara pernikahan Gorontalo pada umumnya, setelah mempelai masuk dan duduk di puade, acara dimulai dengan sambutan keluarga, nasihat perkawinan bagi kedua pengantin, sekadar wejangan buat yang baru  akan memulai mengarungi bahtera rumah tangga, di lanjutkan dengan istirahat, diisi dengan acara makan dan hiburan lagu diiringi organ. Lalu doapun dilantunkan seorang tokoh agama yang dituakan dilingkungan itu, untuk kebahagiaan pengantin. Sesi pemotretan kemudian menutup agenda acara pada malam itu, kamipun diundang untuk foto bersama.
Nah, pada sesi terakhir inilah saya baru sadar ada sesuatu yang berbeda, bahkan dari awal acara hal itu tidak saya perhatikan. Silaturrahim, kekerabatan pada malam itu, di hajatan itu, lebih terasa ketimbang pesta pernikahan, ataupun hajatan lain yang diadakan di gedung-gedung mewah. Budaya huyula, persaudaraan sangat tampak ketika hadirin berjabatan tangan memberi selamat kedua mempelai serta berfoto bersama. Misalnya saja, tetamu yang menghadiri hajatan di wisma pernikahan entah kenapa cenderung lebih kalem, kalau tidak mau di katakan diam tak bersahabat, keadaan jadi kaku. Boleh dikata, sebuah seminar pun terasa lebih “hidup” ketimbang acara yang bukan hanya syarat kesakralan tapi juga keakraban (dulohupa). Namun sebagaimana budaya mestinya diperlakukan, di Gorontalo sebaliknya menjadi hal yang terkesan dilupakan dan ditinggalkan, tergerus budaya ekspatriat dan meninggikan eksistensi sebagai wa’u, ke-akuan, bukan amiyatiya (kami bersama).
Anggapan demikian timbul dikarenakan orang kampung, tetangga, yang berada disekitar lingkungan itu, berbondong datang ke pesta, tanpa ada kesenjangan, perasaan minder, was-was harus berpakaian, berpenampilan seperti ini-itu jika pagelaran di wisma tak perlu ada, yang penting rapi dan sopan. Kesan a’ambuwa ungala’a  bersahaja yang didapat dari acara tersebut sungguh sangat sesuai dengan kalimat yang dalam bahasa Hulondhalo,…”Dulo ito mo topiwasu de Eya”.Memaknai arti hajatan; yakni syukuran lewat berbagi kebahagiaan, tanda terima kasih kepada Allah swt., atas segala nikmat yang diberikan, tanpa harus merenggangkan tali persaudaraan. Saya hanya menimbang suasana yang jarang di alami bahkan seringkali kami rindukan. Kami, yang katanya generasi global dan nitro, apapun itu, sebenarnya punya bekal budaya seperti ini sebagai tameng menangkal efek buruk pergeseran nilai dikarenakan perubahan zaman.
'Alaa Kulli haal, ini adalah argumen pribadi saja, apa yang penting dari semua adalah keberkahan. Semoga.
-Puade : singgasana tempat duduk memepelai di nikahan Gorontalo
-Hulondhalo:Gorontalo
-Mohuyula:Saling membantu dalam persatuan
-Dulohupa: Keakraban, bertemu
_ A’ambuwa ungala’a: bertemunya kerabat dekat dan jauh
-Wa’u: Aku
-”Dulo ito mo topiwasu de Eya”: “Mari berterimakasih kepada Tuhan”


Mengunggah pendidikan lewat cyber



Kalaupun saya mengkreasi brand blog ini bukan sebagai aktualisasi diri dalam menulis saja, maka sungguh saya ingin memberi sesuatu yang konkrit untuk sesama, utamanya pendidikan. Mengapa pendidikan? Karena di benak ini membuat hal yang konkrit adalah tentang menggali akar, merawat batang kesinambungan, hasilnya buah solusi. Dan akar untuk membangun sebuah daerah ialah pikiran masyarakat yang terdidik, intens dengan mana didikan yang benar dengan cara yang benar/ mana yang keliru - bagi pengembangan diri dan orang banyak, motorik dan kognitif.
Saya yakin banyak kalangan blogger local yang memilih cara ini untuk secara tak langsung memberi buat Gorontalo. Simpel; tidak muluk, berusaha memediasi dunia pendidikan di daerah ini lewat cyber. Menyusun, berdiskusi, menghasilkan solusi sesuai ruang gerak pendidikan lingkupan guru, dosen, tutor, pelajar sekolah, mahasiswa, guru, dosen, tutor, maupun ranah bimbingan konseling (parenting guidance).
Menggungah, so pasti semua netter familiar dengan istilah ini. Unggah, lebih nge-net nya: download, adalah proses pengambilan data dari internet untuk kemudian disimpan ke dalam file di hardware/ pc/ laptop.
Kegiatan mengunggah untuk ragam keperluan bidang (kesehatan, ekonomi, pendidikan) telah akrab dengan kita yang selalu mengupdate informasi lewat situs maupun jejaring sosial di internet.Salah satu bahasan paling banyak ditemui di dunia maya yakni pendidikan, berbagai kalangan mudah mencari referensi dengan banyak pilihan. Sangat berguna mengembangkan wawasan pendidikan; fitur seputar  belajar mengajar dapat diakses.
Untuk pendidikan, orang mengeluarkan segala upaya, tenaga dan materi sebab percaya akan substansi pendidikan bagi seorang manusia. Dalam kesadaran itu, saya turut memohon sumbangsih teman, rekan, berupa pikiran/ tulisan/ tutorial/ komentar, agar supaya blog ini lekang dan kontinyu jadi salah satu wadah yang bermanfaat bagi semua.

Saturday, November 17, 2012

"Memperlakukan" Teknologi di era Teknologii

  Tulisan tentang konsep dan visi dalam berteknologi dan dampak penggunaannya. Mungkin orang lebih suka membahas: Apa yang terjadi "Gara-Gara Teknologi.." ? .Bukan semata pengaruh buruk teknologi yang dimunculkan, namun mari tinjau tentang bagaimana perubahan kecil menyeruak di zaman kita sekarang, oleh Prensky (2012) disebut "digital-native era", sebuah era yang bukan saja dipenuhi multikultural aspek dalam kehidupan sehingga ada yang dikenal native art (segala sesuatu tentang tindak asli) dan foreign art (asing), tapi juga cara kita berkomunikasi dalam balutan multi budaya lewat media digital.Media digital, biasa di sebut on line-offline term, techno, atau hi-tech pun memiliki peran yang tidak sedikit dalam usaha manusia memenuhi, menjawab tuntutan hidup sehari-hari. 

   Nanti dulu, sejak perubahan epistimologi dari alat bantu berkaitan dengan dunia sains saja pada awal 1800 an, teknologi telah berangsur menciptakan media yang bahkan sekarang memungkinkan diakses dengan item virtual, ke  perluasan kegunaan untuk semua hal partikular. Dapat menghemat waktu, tenaga, biaya serta praktis adalah faktor yang diungkapkan para pengguna untuk "bersenang-senang" dan tergiring pelan menuju ketergantungan. 

  Dapat berbahaya, karena barometer terendah dan terburuk dari hal ini adalah manusia tidak mau melakukan apa-apa tanpa adanya akses teknologi  sama sekali di lingungannya. Imbas ini dapat segera dicegah dengan pemakaian brainware, yakni manusia itu sendiri, dengan tangguh, jeli, dan benar dalam memperlakukan software dan hardware. Sebaiknya ada semacam saringan yang dibuat berdasarkan penguasaan teknologi informasi, nilai moral serta daya tepat-guna.

  Manusia bisa berdalih bahwa teknologi, contohnya media digital, dapat mempermudah urusan, semakin banyak teknologi dapat dipakai, semakin mudah pula jalan keluar dislesaikan dalam teknik menyibukkan diri. Pemikiran ini menimbulkan custom (pembiasaan), namun setiap kita bisa dengan logis melihat perubahan kecil yang penulis paparkan tadi di awal artikel. Tepatnya, sebuah indikasi haruslah ditempuh supaya target besar boleh dipenuhi. Kita sering lupa, indikasi yang biasa namun berulang dapat memiliki efek buruk terhadap tujuan yang ingin digapai.

  Orang menggunakan media digital untuk jejaring sosial, berinteraksi dengan dunia global. Singkatnya menambah banyak teman. Di sisi lain, ia tidak sadar juga telah membuat batas antara dia dengan orang lain karena lebih banyak berkomunikasi lewat Facebook (FB), misalnya dibanding dengan frekwensi tatap muka di kehidupan nyata sekalipun dengan teman kantor atau tetangga. Untuk keluarga atau kerabat jauh jauh, akan hilang rasa berusaha keras untuk bisa bertemu langsung. Silaturahmi hilang. Mendekatkan yang jauh, tapi pada waktu yang sama menjauhkan yang dekat.

  Intinya, perubahan yang dibawa semenjak abad 19 itu telah menyertakan juga fantasi canggih yang diimpikan semua orang. Objek pemenuhan kebutuhan lebih banyak dapat dijangkau, sekejap mata. Objek yang ingin di kembangkan tinggal butuh sebuah tuas, tombol, atau apapun agar membuatnya berkembang, pesat. Di luar batas kesadaran, dengan kata lain di dalam candu dunia maya, manusia telah mendepak hal kecil yang bisa jadi penyebab kebahagiaan besar hakiki dapat tercipta. Begitulah situasi menarik ini terjadi. Sebuah fenomena yang indah penulis kira, tanpa terlalu menunjukkan emosi yang berlebih dalam tulisan ini. Betapa tidak, anda "bersenang-senang" dengan fasilitas disebut teknologi ini, sedangkan konsekuensinya  jangan sampai menjadikan ini sebuah bahan "mainan" dengan kesenangan yang anda miliki, karena jika teknologi mendapat perlakuan seperti itu, maka boleh saja ia yang akan mempermainkan anda. Tetaplah tinggal dalam jalur pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu. 

___Adin Harmain


Monday, February 27, 2012

Air meluap sampai sekolah ( Lagi )

   Pengembangan infrastruktur di Gorontalo yang terhitung masif ternyata tidak berimbang dengan tindak pencegahan pihak terkait akan adanya ancaman teknis yang memungkinkan rusaknya infrastruktur tersebut. Seperti diberitakan antaranews.com (22/12/2012), meluapnya banjir di daerah agropolitan ini menyebabkan salah satu bangunan sekolah (smpn 7 Gorontalo) harus meliburkan siswa-siswanya akibat area yang digenangi air tidak memungkinkan melakukan kegiatan belajar mengajar. Akibat naiknya air ke gedung sekolah juga membuat siswa kehilangan buku pelajaran yang tersimpan di salah satu ruangan seluruhnya basah dan rusak. Pihak sekolah kemudian mengerahkan para siswa untuk membantu membersihkan dan "menyelamatkan" sekolah mereka saat dan pasca-banjir. 


   Aksi "save the school" memang membantu siswa untuk mempercepat pemulihan kondisi sekolah pasca banjir. Namun, lebih dari itu, patutnya para siswa hari ini dalam keadaan yang tahu beres, masuk sekolah, belajar, menggunakan fasilitas sekolah yang tersedia. Tak pantaslah dalam keadaan seperti ini, sehingga yang harus di jadikan bahan kajian adalah tata ruang gedung sekolah yang dimaksud. Pengalih peranan aksi dari warga sekolah termasuk siswa ke pihak-pihak yang bertanggung jawab (seharusnya) dalam hal ini memang berdasar, sebab nyatanya, dalam setiap insiden air meluap, gedung SMP negeri 7 itu memang dikenal sering ditmpa  banjir, karena letaknya rendah, dekat sungai pula. Benar adanya, sekolah ini termasuk sekolah yang lama berdiri (awal 1970-an) di kotamadya Gorontalo, yang pada saat ini memang perlu tindak pencegahan terhadap serangan banjir, di carikan lokasi yang lebih aman, atau renovasi, bangunan dibuat lebih tinggi dari saluran selokan air setempat, halaman sekolah harus selalu kering, serta pengaliran airnya baik. Perlu juga diperhatikan resapan air dan saluran drainase air hujan untuk menunjang kebersihan, kesehatan, dan konservasi air tanah (SMP1 Majalengka; Pengelolaan sarana dan prasarana sekolah). 


   Solusi pun tinggallah solusi, jika tidak segera dikerjakan dengan cepat dan tanggap. Tuntutan ini menilik pada kondisi siswa yang butuh ruang belajar dan fasilitas sekolah yang terjaga sehingga masih bisa digunakan secara berkelanjutan. Jawabannya tidak lain ada pada pemerintah, karena sekolah termasuk sarana publik, dan tentulah milik negara. Duhai para bapak yang duduk ditampuk kebijakan, siagalah! bekerjalah! yakinlah semua pasti bisa teratasi!..aamiiin. (Sebuah kabar baik penulis dengar terkait pemerintah dan perannya terhadap penanganan banjir kota Gorontalo, semoga tidak menjadi kabar nan sekadar surga telinga ya, pak. Simak di http://www.gorontalokota.go.id/home/info/1526)  _AdinHa

Friday, February 3, 2012

Review Setelah Menulis Skripsiku

   Penelitian kuantitatif; sebagai salah satu penelitian"praktis" bagi penulis karena:1.Hanya perlu memilih statistika yang sinkron dengan situasi yang keluar sebagai hasil penelitian. 2. Menyatukan dua konsep pemaparan; deskripsi (proses) dan preskriptif (teknik), kita kesampingkan dulu hasil merujuk poin ke-2 ini.

   Baiklah, ada penjelasan dari konsep yang saya kemukakan diatas. Segala pemikiran bukanlah suatu kebetulan, tapi pastinya bedasarkan pada real object di sekitar. Saat masa kuliah, penulis mendapati pesimistis dari mahasiswa/-i yang akan menyusun skripsi, which is akan menyongsong hari kelulusan untuk tinggalkan kampus tercinta. Mengapa ada kata"akan"? ya! tepat! karena kebimbangan ini didapati pada subjek yang baru akan membuat kerangka ide untuk dituang dalam skripsi; biasa disebut draft, atau outline.

   Melangkah ke fase outline dengan berbekal penelitian kuantitatif, masih menurut mereka, adalah resiko besar, karena perhitungan statistik yang dibutuhkan akan menyita waktu dan tempat (baca: halaman) outline. Ada yang beralasan tidak menyukai perhitungan yang rumit (padahal tak ayal data yang ada akan lebih akurat jika melalui hitungan empirik), maupun lebih mahir berteori dan cuap-cuap berdasarkan pola awal deskriptif kualitatif (yang lebih sering berorientasi pada hasil, bukan tujuan). Yah, itu pilihan mereka.

   Tidak buruk sama sekali apa yang mereka ambil, namun berpijak diatas alasan kerumitan, tidak butuh pendukung untuk data, yang kuanti sangat berperan di lini itu; adalah sebuah fakta yang menyedihkan. Perhitungan statistik adalah media praktisi menjawab pertanyaan yang dipertanggungjawabkan, jika sudah menggunakannya, maka kesan yang didapat jauh dari kata rumit, karena ibaratnya angka-angka yang tertuang sudah menjadi pembuka jalan bagi latarbelakang penelitian kita yang sebelumnya simpang siur dalam kerangka/ draf. Memang, sudah bukan saatnya menyalahkan perkuliahan statistik yang sudah menempa para mahasiswa. Dalam tingkatan ini, seharusnya mereka bahkan dituntut untuk memilih jalan mana yang  sederhana, shortcut, namun elegan untuk meraih tujuan penelitian. Oleh karena ini adalah tahap penguatan eksistensi mahasiswa itu sendiri.

   Kuantitatif; proses keingintahuan yang berasas pada variabel-variabel valid dan terbukti konkret dalam paparannya. Pengertian yang serta-merta tak bisa kita vonis sebagai penelitian berbelit dan akan lebih mudah jika kita menggambarkannya tanpa data yang wasting. Penggambaran, atau deskriptif yang timbul disini justru lebih efektif untuk menjelaskan kenyataan yang kita lihat, namun tidak dilihat orang lain, termasuk para dosen penguji.

   Hal ini dialami sendiri oleh penulis yang mengambil judul skripsi "Correllation between students' vocabulary and reading comprehensive", yakni penelitian berdasarkan minat pada hubungan sederhana yang mempengaruhi skill luar biasa anak-anak didik. suatu anggapan dasar yang penulis pegang pada akhir skripsi bisa padu dengan teori korelasi. Berawal dari  masalah, kesimpulan serta solusi yang ditawarkan adalah hal mutlak mengacu pada komposisi vocabulary, reading comprehension, dan pengaruhnya terhadap masing-masing siswa, bukan nyeleneh secara umum. Penulis menemukan hal mendasar dalam problematika mereka membaca dan memahami bahasa Inggris. Walaupun, ingin penulis tegaskan disini bahwa cara itu BISA SAJA ditempuh dengan metode kualitatif, namun sebatas menyebutkan apa hubungan negatif dan positifnya. Tapi itulah, pemakaian statistika yang sinkron pada tujuan penelitian hasilnya mendukung untuk menemukan hubungan negatif dan positif yang imbas dikedua variabel vocabulary dan reading comprehension

   Setelah bermain dengan angka-angka, tiba kita pada pembuktian lewat kata-kata yang manjur didepan siapapun penguji. Jangan lupakan deskriptif, penjelasan, dengan preskriptif saling mendukung. Secara jelas, bahwa analisis data yang sebelumnya dikerjakan harus valid, tidak bisa gantung, karena pasti akan mengalami penolakan dalam hasil yang diperoleh. Maka analisis inilah yang bertindak sebagai preskriptif, bagaimana teknik kita mencapai tujuan, dan mendeskripsikan maksud kita membuat penelitian dan menentukan solusi yang takarannya tepat, tak kurang, tak lebih.

   Pengkajian yang penulis lakukan tentang penentuan konsep "sederhana" penelitian kuantitatif, murni agar khalayak tidak keliru memilih metode penelitian dari sudut pandang seorang peneliti kuantitatif, namun tidak berarti anti-kuali.Tak punya maksud menjatuhkan metode yang lain. Adapun setiap metode adalah pilihan kita, sebagai mahluk yang tak terlepas dari kekurangan dan mesti banyak belajar, tapi juga kita dibekali oleh akal sifatnya akademis sehingga bertumpu pada alasan kerumitan metode menurut penulis sangatlah tidak relevan.

Apriyadinulisbebas

Another Random Theory...

Ini teori spekulatif berikutnya yang pernah dibuat, tapi menarik untuk dibuktikan. "Orang yang tak pernah susah dan tertatih hidupnya h...