Monday, November 24, 2014

Permainan & Dunia Anak; “Namanya juga permainan, ……”

by Adin Harmain

Artikel ini pernah terbit di Jurnal Tanggomo edisi 4


 Permainan, di kaitkan dengan manusia dan jenjang umur, selalu tertuju pada hal yang identik dengan anak-anak;  belum baligh; fase sebelum remaja. Dunia anak tanpa diisi dengan berbagai permainan tidaklah lengkap, kata orang Gorontalo bagai kue Bageya tanpa teh, akan terasa hambar. Dari sini mafhum lah bahwa permainan, bermain dengan permainan, sungguh merupakan kebutuhan seorang anak layaknya orang dewasa memprioritaskan sesuatu seperti olahraga, kendaraan, atau bahkan kacamata. Bukan hanya sekedar perilaku “bermain-main”, atau pun yang seringkali kita sederhanakan dengan mengatakan; “namanya juga anak-anak…”. Ini sifatnya kodrati.
 Lumrah memang, anak dengan dunianya, tanpa disadari menganggap permainan memiliki arti besar sebagai alat pelengkap kasih sayang orang tua. Tetapi juga tak boleh disepelekan; permainan bagi anak-anak mempunyai hubungan erat dengan kasih sayang orang tua terhadap si anak. Orang tua yang membelikan mainan  maupun mengizinkan anak mereka bermain dengan kawan-kawan, berarti menghadiahi anak mereka sebuah bentuk kasih, meski hadiah kebendaan tidak cukup mewakili makna kasih sayang yang begitu luas, namun sang anak akan merasa bangga jika tahu dirinya di sayangi.
Poin yang tidak kalah penting untuk dipahami ialah sifat setiap permainan yang dimainkan oleh anak mengandung entertainment, hiburan. Dimana rasa yang diciptakan oleh permainan itu, contoh: permainan rakyat petak umpet, di Gorontalo dikenal cur-cur pal, gundu (kenikir), layang-layang (alanggaya) serta lainnya, tiada lain untuk memenuhi kepuasan batin mereka, yakni keseruan dan keriangan yang tak terhingga. Sehingga tak perlu muncul  anekdot dalam masyarakat , “masa kecil yang kurang bahagia”, bagi orang dewasa.
 Selanjutnya, jika anak sudah mencapai esensi rasa dari permainan tersebut, maka hasil akhir permainan; kalah-menang, bagi anak, sudah bukan masalah lagi, mereka bisa menempatkan permainan dalam konteks yang sebenarnya;“namanya juga permainan…”. Karenanya, anak-anak akan belajar perspektif pertemanan, dalam ranah keadilan (fair play), tanggung jawab, dan saling tenggang rasa, nilai-nilai yang belum tentu bisa didapatkan dengan sekadar membaca/ menghafal isi pelajaran formal. Sekiranya item ini yang sering digaungkan menyoal pendidikan berkarakter yang sedang diusung dunia edukasi kita akhir-akhir ini.
Setelah mengetahui refleksi tersebut diatas, patutlah kemudian kita menyematkan permainan bagi dunia seorang anak adalah cara jitu bagi orang tua untuk mencintai, memahami, sekaligus mendidik anaknya. Pada akhirnya artikel singkat ini dapat kita tarik kesimpulan terhadap hubungan permainan dengan dunia seorang anak; mengizinkan mereka bermain bukanlah membiarkan mereka berleha dengan hidup, mengabaikan pentingnya keseriusan dalam meraih asa di esok hari, tapi justru mengenalkan mereka kepada media yang selalu menyediakan ilustrasi positif agar senantiasa terbiasa berbagi dengan sesama. Semoga.
Sumber: Gunarsa, Singgih. 1995. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.   Jakarta: BPK Gunung Mulia,  Wauran. M.H. 1977. Pendidikan anak sebelum sekolah. Bandung: Indonesia Publishing House.

Kandas



by Adin Harmain
  Hubungan. Periode peradaban telah membawa sosialita menyentuh  ranah multilateral, secara studi dan ilmu penerapan disebut Hubungan Internasional. Menurut buku Rencana Strategi Pelaksanaan Politik Luar Negeri RI (Renstra), HUBUNGAN INTERNASIONAL (HI) adalah hubungan antar bangsa dalam segala aspeknya yang dilakukan oleh suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional. Entah kali keberapa Indonesia sebagai negara yang “ikut melaksanakan ketertiban dunia” telah banyak bergerak, juga banyak dirugikan dalam relasi model begini. Hubungan yang parasit atau mutualis?.
 Selayaknya hubungan interpersonal, HI telah membawa Indonesia kita pada sudut pro-kontra. Masalah TKI lah, human trafficking, eksport jagung, impor beras (??). Bahwa sebenarnya ada hubungan yang lanjut ada pula kandas, negara kita telah lalai dalam mengadopsi HI ini antara lain dalam hal kebudayaan;
a)      Generasi muda sekarang lebih suka meniru gaya orang-orang barat, misalnya trend mode berbusana. Anak muda zaman sekarang lebih suka menggunakan barang-barang eksport dan berbusana yang minim-minim sehingga menyebabkan kurangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri.
b)      Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
c)       Pergaulan masyarakat barat yang bebas mulai memengaruhi budaya Indonesia yang sebelumya lebih beradab. Kebebasan yang kelewat batas itu sebenarnya tidak cocok dengan nilai-nilai kebudayaan kita. Misalnya saja free sex yang sekarang ini marak terjadi di Negara kita. Padahal hal itu sangat bertentangan dengan kebudayaan kita yang menjunjung tinggi norma kesusilaan.
d)      Kurangnya rasa hormat tehadap orangtua  dan tidak peduli terhadap lingkungan juga merupakan dampak yang ditimbulkan dari kebudayaan barat yang menganut kebebasan sehingga mereka bertindak sesuka hatinya.

see???!!
  Bukannya menceramahi, namun itulah satu hal menjadi sad ending buat episode negara kita, yang kita saja yang dirugikan. Belum-belum, tenaga kita di seberang jadi bulan-bulanan oknum ditempat dimana kita anggap “aman” untuk SDA Indonesia yang katanya bermasalah pelik pada; lifeskill, fasilitasi pemberdayaan, dan macam kekhawatiran lain. Poin ini diperkeruh dengan kenyataan produk negara berkembang banyak masuk kenegara maju. Globalisasi ekonomi menyebabkan hambatan perdagangan antarnegara semakin berkurang. Produk negara berkembang seperti dari Cina dan Taiwan banyak beredar dipasar negara Eropa sehingga konsumen lebih banyak memiliki pilihan produk. Ada lagi: banyak pengusaha dari negara maju yang menanamkan investasi di negara berkembang. Mereka berusaha menghindari pajak tinggal di negaranya sendiri dan berusaha untuk menghemat biaya produksi. Kita jadi tameng.
  
  Semakin banyaklah duka yang tertinggal dari hubungan yang kandas ini. Sudah jatuh, tertimpa kandas pula (grrrr…). Tak ubahnya pantun;

Sudahlah makan tak berkuah
Nasi di meja terasa kurang
Sudahlah badan tak bertuah
Kekasih pula dilarikan orang


Tapi banyak juga, testimoni warga kita yang berhasil di luar sana. Namun menjaga negeri ini, lebih tepatnya "membangun"nya adalah visi setiap anak bangsa, seharusnya.

Why do I have to smile?

__Adin Harmain
Why do we have to smile? For some reason, people said it’s stimulate our body to be inside and outside healthy. Some of us believed that smile can make others feel comfort staying beside us. Rasulullah Saw., as the best teacher also teach us to keep smiling, as a sign of give, share, and even the value from ALLAH SWT. were really guaranteed for one who always smile.
However, different people in different countries conserved smile in varieties, such as in Japan; smile were informal because they think smile is only available for mom-kids or husband-wife relationship. It were not polite to smile or laugh with someone who has higher position than us (in office, corporation, parliament). The particular certainly comes trough different culture. In Indonesia, it was a gigantic fundamental about smile, since this attitude has cover all of our identity, from Sabang to Merauke. We are a humble and nice country.
A phenomenon then comes to ours, that many disaster and crisis seems decreasing our identity. It is normally happen, for example alike someone who having hard days, lot of trouble, and confuses. There will need big heart and much sacrifices to get through these. Similar with the situation, our country does need big heart to facing hard times. It might caused sadness, but do not dropped by. We must continue our positive personality as a nation, which is smile itself, and it absolutely need time for recover it. Well, according to me, who is really no-one and not great as the smiling people, smile could turn the control of mind, and could make everything possibly fixed. That does not mean that we are too relax about life and problems, but smile is an optimism. Anyway, the days may be cruel, but we can heal it…just smile and the world will be colorful for you…..I don’t know what else to write, but all I can do today is smile, Hihi  :)

This what was called Bilingual Education

07092012_Pendidikan_Dwibahasa_dan_Jati_Diri_Anak
The first factor in appearing this issue is the world of the twenty first century is inescapably bicultural and multicultural. Prensy (2012) said that bilingual is situation appears at native era that has communication between human by major then second language or foreign language. Therefore, blilingual is term that indicates how aspects of life were used in two languages; it could be multilingual if it were more than two languages. This even could be digital native-era that can cause real and virtual relationship. In Indonesia, this system has already happen in some school that role as pilot project.
The history
Before this mentioned century there are communication happen between people in the world, so there are many reason for building this bilingual term (Lewis:1976). These are the fact:
-          Rome  teach Greek in school was also using Greek alphabet without controversial
-          Luxembourg and European school
The system (Immersion)
Does bilingual education work? This is a fact that in the earlier 1960’s day of declaration for official languages acts in Quebec, Canada. The French Canadian whose taught in Canada’s kindergarthen? The limitation of teacher makes them transferring teacher and produce bilingual, but they have complain about that. Next, it was so many Christian French school, Christian Canada school etc, they were at the same curriculum.
The Nationalism correlation
Hornberger (2001) said that the concept of one nation one language, signaling unification. But denationalization caused by bilingual is never occurred for a number of major language world languages such as English, Spanish, and Russian which destruct the world. In our country, that thing is also happen.
Language Policy
According to the policies in Indonesia, the establishment of bilingual education compound in Content/ SI (standar isi) and SKL about x agreement;
  1. Generic structure for English subject in International Standard School/ SBI areSNP+X1,X2,X3,X4, dan X5
  2. X1:    English is language used related to teach English, maths, science and technology, and communication outside class.
  3. X2:    English subject being taught has to be related with general subjects.
  4. X3:    English taught by facilites of information and technology center.
  5. X4:    Also have to taken cross culture understanding.
  6. X5:    English accomplish the growth of children’s intelligence.

Save the Language!!


Print
LM Concept
Language maintenance (LM) occur when  a speaker, group, or community when they want to keep their language save and continue.
It is happen because of language death, as in American Indian and Australian aboriginal language. It has a pathetic point such as language switch (LS) American Indian and Australian aboriginal language they were switch into Australian English and US.
The Domain
Language maintenance appear in family, home or neighborhood, for example the use of word “daddy” from “father” that happen in US, the “father “is usually use and also “daddy”, so there was no destruction. In fact, LM can influence ethno linguistic to be more continuing such cultural, ethnic and linguistic.
The Prospect
Language maintenance is a factor that can help language in order to make it grow in to our child and generation. In addition, we need this also for nowadays situation to make the unity stronger. In result, that LM can make the world not

Tentang Performa Mengajar


___Adin Harmain, Oktober duakosongduabelas

Saya lagi dalam kondisi begitu ideal saat menuliskan ini.
Siap, tangkas, tuntas; 3 kata yang mewakili kemampuan seseorang menjalankan rutinitas hingga dalam suatu proses pemikiran ia akan bisa menilai bahwa apa yang saya lakukan itu sudah total. Sudah performa terbaiklah ia yang bawakan. Kelihatannnya, akan selalu ada alasan untuk menyebut kita telah melakukan aktifitas dengan performa paling atas dari yang kita punya. Benarkah demikian? . Kalau penilaian pun bisa dari diri sendiri, maka jelas,  kolom rapor persepsi orang lain untuk kita pastilah tersedia.
   Performa, Memainkan (artikata.com) dan penilaian terhadapnya memang tak bisa lepas dengan peran orang banyak (public review). Hanya substansi yang tidak terpusat dan cara kerja yang membedakan. Pada centangan pekerjaan yang administrasif, misalnya, performa atau lebih kental dengan istilah kinerja (Job performance) memiliki target relatif lebih sederhana: keuntungan. Aplikasi lebih dari peruntungan dibutuhkan jika ini menyangkut layanan kepada masyarakat.
   Pendidikan;  konsolidasi dan deal dengan apa yang dihadapi adalah proses panjang dan terkadang menjenuhkan bagi mereka yang menjalani profesi pendidik. Bagaimana sulitnya memahami konten yang telah disusun rapi dalam kurikulum, mentransfer kepada orang lain, serta mengakuisisi pencapaian seseorang terhadap apa yang sudah ia ajarkan adalah beberapa kerikil yang harus senantiasa ditemui. Mendapati siswa tidak bisa meraih Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sesuai Standar Kompetensi (KD) layaknya sudah memutus mata rantai kurikulum dan menghancurkannya dengan seketika. Melihat mahasiswa tidak bisa mem pronounce sebuah kata dalam bahasa Inggris rasanya seperti sudah merusak tatanan bahasa mulai dari A sampai Z negeri berpopulasi terbesar ke-4 di Uni Eropa itu.
   Penilaian yang akan dilakukan publik nyatanya selalu pada pendidik sebaik apa kita sebaga pendidik membawakan performa. Simamora (2000), menyatakan Seorang guru dalam mengerjakan tugasnya dengan baik, seringkali ditentukan oleh penilaian terhadap kinerjanya. Penilaian terhadap kinerja merupakan faktor penting untuk meningkatkan kinerja dan kepuasan kerja guru, bagian-bagian yang menunjukkan kemampuan guru yang kurang dapat diidentifikasi, diketahui sehingga dapat ditentukan strategi dalam meningkatkan kinerjanya. Singkatnya, performa yang mengesankan akan meninggalkan identitas pembelajaran yang jelas terhadap pembelajar. Bukan cuma asal menyelesaikan materi dan Standar Kompetensi Kompetensi Dasar (SKKD) pun terwujud.
   Performa itu perlu, demikian pentingnya hingga persiapan untuk menorehkan performa yang baik itu pun perlu. Apa saja yang diharus disediakan guru/ pendidik berhubungan persiapan pengajaran? Berdasarkan kaedah Inovasi pendidikan, Depdiknas (2007)  telah memberikan beberapa rumusan mengenai kinerja guru yang memperbaharui konsep belajar peserta didik, tidak jalan ditempat, yang bisa di elaborasikan sebagai berikut:
·   Kombinasi antara penguasaan materi terstruktur dengan studi kasus dikelas, jangan hanya jadi guru yang unggul belajar semalam dari siswa, tapi punya visi terhadap sejauh mana perubahan siswa ketika ia meraih hasil (pemahaman materi, nilai) pun tidak meraih hasil seperti harapan.
·  Menyelesaikan masalah pembelajaran melalui masukan, proses, sarana/prasarana dan hasil belajar peserta didik.
·   Menyiapkan dengan sangat baik hal teknis terkait efektifitas penggunaan media sebagai langkah urgen meningkatkan performa mengajar. Kekuatan performa seorang pendidik dapat ditunjang oleh hal-hal berikut:
 ·   Selalu ada pada wilayah kesiapan konsentrasi dan improvisasi
·   Jangan membawa beban/ masalah pribadi kedalam kelas
·   Menjalankan psikologi mengajar sebagai penerapan yang bertahap, belajar dari setiap pengalaman mengajar
·   Tanggap terhadap pemakaian IT terkait pembelajaran, tujuan pembelajaran yang dicapai dengan atau tanpa menggunakan IT harus dipahami.
    Dengan kepercayaan diri bolehlah kita mengatakan telah melakukan hal terbaik menyangkut pengajaran. Tak ada yang salah dengan kepercayaan diri dalam setiap performa mengajar. Tapi , masih, persiapan itu perlu. Untuk  itu, hendaknya selalu ada kenisbatan untuk selalu berpegang pada peningkatan kepribadian dan keprofesionalan guru/ pendidik. Hal ini jika diperhatikan akan bermuara pada peningkatan kualitas lulusan. Sehingga, kita bisa selalu nyaman mengatakan ” saya telah mengajar dengan baik”.

Thursday, September 11, 2014

SURAT BUAT IBU NEGARA oleh Abdurrahman Faiz

SURAT BUAT IBU NEGARA

Kepada Yang Terhormat

Presiden Republik Indonesia
Megawati
Di Istana

Assalaamualaikum.

Ibu Mega, apa kabar?
Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini.

Ibu, di kelas badanku paling tinggi.
Cita-citaku juga tinggi.

Aku mau jadi presiden.
Tapi baik.
Presiden yang pintar,
bisa buat komputer sendiri.

Yang tegas sekali.
Bisa bicara 10 bahasa.
Presiden yang dicintai orang-orang.
Kalau meninggal masuk surga.

Ibu sayang,

Bunda pernah cerita
tentang Umar sahabat Nabi Muhammad.
Dia itu pemimpin.

Umar suka jalan-jalan
ke tempat yang banyak orang miskinnya.

Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar.
Soalnya Umar menyamar.
Umar juga tidak bawa pengawal.

Umar jadi tahu
kalau ada orang yang kesusahan di negerinya
Dia bisa cepat menolong.

Kalau jadi presiden
aku juga mau seperti Umar.

Tapi masih lama sekali.
Harus sudah tua dan kalau dipilih orang.

Jadi aku mengirim surat ini
Mau mengajak ibu menyamar.

Malam-malam kita bisa pergi
ke tempat yang banyak orang miskinnya.

Pakai baju robek dan jelek.
Muka dibuat kotor.

Kita dengar kesusahan rakyat.
Terus kita tolong.

Tapi ibu jangan bawa pengawal.
Jangan bilang-bilang.


Kita tidak usah pergi jauh-jauh.
Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan.

Mereka mengamen mengemis.
Tidak ada bapak ibunya.

Terus banyak orang jahat
minta duit dari anak-anak kecil.

Kasihan.

Ibu Presiden,
kalau mau, ibu balas surat aku ya.

Jangan ketahuan pengawal
nanti ibu tidak boleh pergi.
Aku yang jaga
supaya ibu tidak diganggu orang.

Ibu jangan takut.
Presiden kan punya baju tidak mempan peluru.

Ada kan seperti di filem?
Pakai saja.

Ibu juga bisa kurus
kalau jalan kaki terus.

Tapi tidak apa.
Sehat.

Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin
di negara Indonesia.

Bisa tahu sendiri
tidak usah tunggu laporan

karena sering ada korupsi.

Sudah dulu ya.
Ibu jangan marah ya.
Kalau tidak senang
aku jangan dipenjara ya.

Terimakasih.

Dari

Abdurahman Faiz

Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Tim

Monday, February 24, 2014

Syair tua



 yang tua bukan syairnya..tapi perempuan yang berjejal melawan di saujana hari
Ia mengungkit, membela sisa tenaga untuk digerakkan dari sebuah tandan kehidupan
Aku terkagum saksikan pejuang itu, “hola perempuan!”, kami melihatmu sebagai ksatria jelmaan
Apalagi yang tersisa untuk di buktikan? Tak tahulah, yang jelas kau hanya punya sisa-sisa kenangan
Tak luluh, tak lantak di tengah ketakberdayaan..


tirto.id

“Pendidik-kan?”


Gorontalo, Agustus 2013. Tulisan ini dibuat oleh seorang sarjana pendidikan yang masih berusaha menerapkan  apa itu pendidikan serta bagaimana pendidikan berafiliasi terhadap gelar yang saya emban, yang saya tahu pendidikan terbaik datang dari Islam, dan saya percaya itu.
Terserah apa kata anda saat membaca potongan kalimat keluh diatas. Terserah, anda bebas mengartikan “saya nya yang kurang belajar dengan giat saat kuliah, atau dosen nya yang terlalu aktif mempasifkan mahasiswa saat dikelas”. Lha?  Terserah lah menilai, sebebas kementerian pendidikan yang sekenanya mengubah kurikulum yang saya ketahui sudah baru lagi, padahal menteri/ kabinet ini rencananya, maaf, mau diganti tahun depan, pemilihan presiden sudah menanti dalam waktu dekat.



Motif setipe bahkan sudah jadi kemakluman orang banyak. Kabinet baru, kebijakan baru. Entah karena keberadaan pemimpin negara baru, atau karena gengsi melanjutkan sistem yang sudah ada. Padahal, kinerja yang apik dari pemerintahan, kini terkait dengan lampau, hendaknya dipertahankan meski di sebagian sektor riil lain banyak terdapat yang dalam istilah industri dikenal sebagai “gagal produk”.  Alih-alih meningkatkan (lebih dari mempertahankan), pendidikan telah merubah total cara kerjanya yang dibahasakan dengan kurikulum setidaknya 5 kali selama saya duduk dan berdiri di bangku sekolah dulu.
Apa yang salah? Para pelaksana sistem kah? Guru-dosen? Atau bisa saja siswa-mahasiswa di negeri kita? Ya sudah, saya tak mau mengkritisi panjang lebar apa yang tidak saya pahami layak nya saya tulis di atas. Yang saya ketahui adalah kami, sarjana pendidikan adalah bagian dari pelaksana sistem tersebut. Segala doktrin, harapan dan macam basa-basi digantungkan. Anda;  orang tua siswa, mahasiswa, segenap elemen masyarakat  harus tahu, tidak semua dari kami tidak paham dengan kuliah kependidikan bangsa ini (baca; seperti saya). Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen pasal 4, (kurang lebih) menyatakan; yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Bahwa pendidikan membutuhkan pendidik atau orang yang digugu-ditiru dengan tauladan yang menyeluruh, yang mengerti makna pendidikan, juga mahir menjalankan “roda pendidikan”, itu 100% benar.   Tapi…
Catat ya…; Guru bukan hanya tentang performa, yang wajib bagi masing- diperbaiki secara perorangan, ada berbagai pendukung lain yang perlu pula distabilisasi dan jangan diubah-ubah, yakni kepada apa guru sedianya berkiblat, dan tujuan konten diajarkan itu apa. Dinamis, tapi tetap berkala. Agar tolok ukur wadah pendidik secara keseluruhan bisa terus diamati, program serta capaian kemarin bisa disinambungkan. Apa jadinya kalau satu orang guru dalam masa abdi nya selama 3 tahun, misalnya, diharuskan mempelajari, menyusun serta menerapkan 2-4 silabi kurikulum berbeda setiap tahunnya? Ini akan jelas berdampak pada performa guru tersebut. Jangan salahkan juga jika ada guru yang senewen jika dalam suatu kesempatan seorang wali murid bertanya buku apa yang akan dibeli, kok tiap tahun ganti-ganti?

Baik, saya ingin jadi baik

Baik, ingin jadi orang yang baik, kalaupun ada kebaikan yang ada pada diri ini, maka saya ingin lebih baik.  Saya ingin orang melihat saya s...